Melahirkan di air (water birth) mungkin belum popular di Indonesia. Namun belakangan metode persalinan ini mulai banyak diterapkan di beberapa rumah sakit, terutama di Jakarta dan Bali. Pada dasarnya, metode water birth tidak jauh berbeda dengan persalinan normal biasa. Hanya saja proses persalinan berlangsung di dalam air dengan posisi bebas, asalkan nyaman bagi sang ibu. Ketika mulai bukaan ke-6, calon ibu akan dimasukkan ke dalam kolam berisi air hangat dalam suhu stabil 37o C yang akan memberikan rasa nyaman, tenang dan rileks. Kulit di sekitar vagina pun akan menjadi tipis dan lebih elastis. Proses mengejan pun lebih mudah karena rasa nyeri selama persalinan tidak terlalu dirasakan. Sehingga proses pembukaan jalan lahir pun akan berjalan lebih cepat.
Menurut pakar ginekolog, metode ini terbukti bisa mengurangi rasa sakit akibat proses persalinan hingga 80 persen. Serta bisa mengurangi risiko pengguntingan bibir vagina (perineum). Prosesnya pun berlangsung lebih
singkat, sekitar 1-2 jam saja. Bandingkan dengan persalinan normal yang umumnya membutuhkan waktu hingga 8 jam atau lebih! Selain itu juga risiko cedera kepala bayi bisa dikurangi. Jangan khawatir, bayi akan tersedak. Bayi yang baru lahir masih bisa bernafas karena plasentanya masih tersambung ke perut ibu. Bayi yang dilahirkan melalui water birth juga tidak akan mengalami hipotermia. Suhu air yang hangat membuat bayi seolah masih berada di dalam rahim. Itulah sebabnya bayi tidak akan langsung menangis sesaat setelah dilahirkan. Sayangnya, tidak semua calon ibu bisa menjalani metode water birth. Karena pertimbangan medis, calon ibu yang memiliki tulang panggul sempit, sedang dalam perawatan medis ataupun mengidap herpes tidak diperkenankan melahirkan di dalam air. Begitu juga jika posisi bayi dalam kandungan sungsang ataupun melintang. Jadi, ibu hamilsebaiknya berkonsultasi lebih dulu dengan dokter untuk dapat mengetahui metode persalinan apa yang paling sesuai dan aman dengan kondisinya. (berbagai sumber).

